Di tengah tekanan ekonomi, persaingan yang semakin ketat, serta perubahan teknologi yang bergerak cepat, freelancer Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Bukan hanya soal mendapatkan proyek, tetapi juga menjaga keberlanjutan pendapatan dan tetap relevan di tengah hadirnya AI.
Kondisi inilah yang menjadi latar belakang penyelenggaraan SRIBUFEST 2025, festival tahunan dari Sribu yang tahun ini mengusung tema “Survive & Thrive.” Bertempat di CGV Grand Indonesia, SRIBUFEST 2025 dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus ruang temu bagi freelancer, klien, dan pelaku industri kreatif.
Membuka Percakapan tentang Realita Freelancer
Sejak sesi pembukaan, SRIBUFEST 2025 tidak diposisikan sebagai perayaan semata. Suasana dibuat lebih reflektif, sejalan dengan realita industri yang sedang dihadapi. COO Sribu, Alexandro Wibowo, menegaskan bahwa tahun ini memang terasa berbeda.
“Tahun ini… terasa berbeda. Ekonomi sedang tidak baik-baik saja, dan banyak dari kita bertanya: bisakah kita tetap berjalan, bahkan tumbuh di tengah badai ini?” ujarnya.
Ia menekankan bahwa SRIBUFEST hadir bukan untuk merayakan pencapaian, melainkan untuk membangun kebersamaan. “Hari ini bukan tentang perayaan. Hari ini tentang kebersamaan. Tentang bagaimana kita survive dan bahkan thrive—bersama,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Alexandro juga mengingatkan peran penting komunitas dalam perjalanan Sribu. “Sribu tidak akan survive tanpa bantuan kalian—para freelancer dan para klien,” katanya.
1,6 Juta Freelancer dan Perubahan Arah Industri
SRIBUFEST 2025 juga menjadi momentum untuk melihat kembali skala dan tanggung jawab ekosistem Sribu. Saat ini, Sribu telah menjadi rumah bagi lebih dari 1,6 juta freelancer di seluruh Indonesia.
“Ini adalah sebuah komunitas besar—sebuah kekuatan—yang tumbuh bukan karena keberuntungan, tetapi karena rasa aman dan kepercayaan. Bahwa bekerja lewat Sribu itu aman, terpercaya, dan jelas hasilnya,” ungkap Alexandro.
Ia juga menyoroti perubahan kebutuhan bisnis sepanjang 2025. Kebutuhan untuk membangun brand dan mengembangkan operasi menjadi dua faktor utama yang mendorong semakin banyak klien bekerja sama dengan freelancer sebagai partner strategis.
AI, Relevansi, dan Ketahanan Karier
Isu AI menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam SRIBUFEST 2025. CEO Sribu, Ryan Gondokusumo, menyampaikan bahwa tantangan freelancer hari ini tidak berdiri sendiri.
“Tantangan terbesar freelancer hari ini adalah mencari proyek berkelanjutan, meningkatkan average income, sekaligus beradaptasi dengan AI,” ujarnya.

Namun Ryan menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. “Saya percaya AI tidak datang untuk menggantikan manusia, tetapi membantu kita bekerja lebih cepat. Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi perubahan ini,” tambahnya.
Topik tersebut juga diperkuat melalui sesi para pembicara. Benakribo mengangkat isu relevansi dan konsistensi kreator di tengah perubahan platform dan algoritma. Aryo Pamungkas, Founder Slab Studio, berbagi perspektif tentang ketahanan kreatif dan pentingnya keberanian bereksperimen dalam industri yang terus bergerak. Sementara itu, Michelle Yap, VP Marketing dari Exabytes, membahas strategi membangun karier dan brand secara berkelanjutan di tengah kompetisi yang semakin global.


Di sela-sela sesi yang reflektif, Nury Zhafira hadir sebagai pencair suasana lewat stand-up comedy yang mengangkat realita kehidupan freelancer. Tawa yang muncul justru terasa dekat, karena banyak cerita yang terasa sangat relevan dengan pengalaman sehari-hari para peserta.
Apresiasi dan Perlindungan bagi Freelancer
SRIBUFEST 2025 juga menghadirkan Sribu Talent Awards sebagai bentuk apresiasi kepada freelancer yang menunjukkan konsistensi, kualitas, dan dedikasi. Penghargaan ini diberikan bukan semata untuk pencapaian, tetapi untuk perjalanan panjang yang dijalani para freelancer di tengah tantangan industri.


Selain itu, kehadiran BPJS Ketenagakerjaan turut menjadi sorotan. Dalam acara tersebut disampaikan bahwa freelancer kini juga mendapatkan perlindungan, seiring kerja sama yang terjalin dengan Sribu. Langkah ini dipandang sebagai bagian penting dari upaya membangun ekosistem freelancer yang lebih berkelanjutan.
Menutup dengan Semangat Kolaborasi
Menutup rangkaian acara, Ryan Gondokusumo kembali menegaskan esensi SRIBUFEST sebagai ruang kolaborasi.
“SRIBUFEST adalah perayaan atas kolaborasi. Sore ini membuktikan bahwa kita adalah sebuah komunitas yang kuat, yang didorong oleh kualitas dan didukung oleh kemitraan yang solid,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk pulang dengan semangat baru dan terus membangun momentum bersama.
SRIBUFEST 2025 mungkin telah berakhir, namun semangat Survive & Thrive akan terus menjadi bagian dari perjalanan Sribu—dalam membangun produk, kolaborasi, dan ekosistem yang mendukung pertumbuhan freelancer Indonesia.










